Jumat, 18 Juli 2008

tawadlu

Keutamaan tawadlu’

Tawadlu’ (rendah hati) adalah tuntutan dalam pergaulan baik kepada yang lebih tua atau lebih kecil, dengan yang kaya atau yang miskin dan dengan niat agar mendapatkan ridho Allah semata. Adapun tawadlu kepada orang kaya karena melihat kekayaannya maka itu perbuatan tercela.

Sebaliknya takabur (sombong) adalah sifat yang tercela baik dengan sesama muslim atau dengan non muslim. Para nabi ketika mengajak orang-orang kafir untuk memeluk islam, mereka tidak bersikap sombong, karena jika para nabi itu bersikap sombong terhadap orng-orang kafir tentu mereka akan lari menjauhi dari ajakan para nabi tersebut. Sikap rendah hati ini sering dicontohkan oleh nabi Muhammad saw dan nabi-nabi lainnya dalam kehidupan mereka.

Suatu ketika rasulullah saw melakukan transaksi dagang dengan orang yahudi dengan system penundaan pembayaran sampai batas tempo yang telah ditetapkan, namun tiba-tiba orang yahudi itu datang menagih pembayaran sebelum jatuh tempo dan berkata: wahai bani abdul mutholib, kalian suka menunda-nunda pembayaran hutang. Rasulullah tidak marah atas pernyataan orang yahudi itu malah rasul memerintahkan agar hutangnya segera dilunasi karena rasul ingin berbuat baik kepada orang yahudi tersebut. Rasulullah tidak marah dihadapan orang yahudi yang mencacinya dan mencaci keluarganya.karena perkataan orang yahudi tersebut juga mencangkup keluarga rasul, seakan-akan orang yahudi itu berkata: “kamu wahai Muhammad dan keluargamu suka menunda-nunda hutang”.

Melihat sikap rendah hati rasul, orang yahudi kemudian masuk islam, karena pada dasarnya ia hanya menguji rasulullah untuk membuktikan tanda-tanda kenabian pada diri rasulullah sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab terdahulu.

Sifat tawadlu juga dicontohkan oleh imam ahmad ar-rifa’i. Suatu ketika imam ahmad berjalan bersama-sama muridnya ditengah perjalanan datang seorang yahudi menghampirinya. Orang yahudi itu ingin membuktikan kebenaran apa yang diceritakan orang-orang tentang imam ahmad bahwa beliau adalah seorang pemaaf dan rendah hati. Orang yahudi itu berkata: “wahai tuan ahmad siapa yang lebih mulia, anda atau anjing?”, imam ahmad menjawab dengan sikap rendah hati: “jika aku berhasil melewati shirat, maka aku lebih mulia”. Mendengar jawaban yang sama sekali tidak tampak sikap marah imam ahmad itu, orang yahudi tersebut masuk islam, bukan hanya ia seorang, keluarga dan sebagian besar orang-orang yang dikenalnya juga masuk islam.

Kalau saja imam ahmad tidak rendah hati dihadapan orang yahudi, belum tentu orang yahudi itu masuk islam. Tetapi sikap tawadlu dan pemaaf yang ditunjukan imam ahmad begitu membuatnya takjub, sehingga akhirnya mengakui kebenaran agama dan ajaran imam ahmad dan akhirnya masuk islam.

MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Segala puji bagi Allah swt, shalawat dan salam atas baginda rasulullah saw beserta keluarga dan para sabatnya yang baik dan suci.

Dia adalah sayyid kita, Muhammad bin Abdillah bin abdil mutholib. Aminah binti wahb mulai mengandung rasulullah pada petang jum’at malam pertama dari bulan rajab. Pada saat Aminah mengandung rasulullah beliau melihat burung-burung yang mengelilinginya sebagai tanda penghormatan kepada janin yang dikandungnya. Apabila Aminah hendak minum air dari sebuah sumur maka air sumur tersebut naik keatas permukaan sebagai penghormatan dan pengagungan atas rasulullah.

Kejadian aneh ini kemudian diceritakan kepada suaminya Abdullah, ia berkata: ini adalah karamah bagi janin yang sedang engkau kandung. Aminah juga berkata: saya mendengar bacaan tasbih para malaikat disekitarku, aku juga mendengar suara yang mengatakan: ‘ini adalah cahaya rasul’. Saat tidur aku bermimpi melihat sebuah pohon yang diatasnya bintang-bintang yang berkilauan dan diantara bintang-bintang tersebut ada satu bintang yang cahayanya menyinari semua, ketika aku melihat cahaya tersebut tiba-tiba bintang itu jatuh ke pangkuanku kemudian aku mendengar perkataan: dia adalah seorang nabi dan rasul. Kemudian seorang malaikat datang menghampiriku dengan membawa selembar kertas berwarna hijau dan berkata: sungguh engkau telah mengandung pimpinan para rasul dan nabi orang-orang yang beriman.

Aminah berkata: ketika aku melahirkannya aku melihat bayi itu mengangkat kepalanya kearah langit sambil memberi isyarat dengan jarinya, lalu ia dibawa oleh jibril dan para malaikatpun terbang bersamanya, kemudian mikail membalutnya dengan kain putih dari surga lalu ia diberikan kepada malaikat ridwan untuk diberikan sesuatu, setelah itu saya melihatnya seakan ia berkata: “cukup wahai kekasih Allah, tidaklah tersisa ilmu dan kesabaran seorang nabipun kecuali telah aku berikan kepadamu, barang siapa mengatakan apa yang engkau katakan dan mengikuti ajaranmu, niscaya ia akan dikumpulkan kelak dalam golonganmu. Dan tiba-tiba seseorang berseru: “ajaklah ia mengelilingi timur dan barat bumi, tunjukan kepadanya tempat-tempet kelahiran para nabi, berilah ia ketulusan adam, pengetahuan syit, kelembutan nuh, kebijaksanaan lukman, kesabaran ayub, kemerduan dawud, kekuatan musa, kezuhudan isa, pemahaman sulaiman, keharuman denial, kewibawaan ilyas, kemaksuman yahya, dan keqabulan zakaria. Tenggelamkan ia dalam akhlak para nabi dan sembunyikan dari pandangan semesta alam karena ia adalah kekasih tuhan semesta alam. Beruntunglah orang yang mengasuhnya, beruntunglah orang yang menyusuinya dan beruntunglah rumah yang ditempatinya. Pada suat hari Muhammad kecil ditemani saudara susuannya keluar ketempat pengembalaan, tiba-tiba jibril datang bersama mikail mengahampirinya, keduanya menelantangkan Muhammad dan membelah dadanya, lalu keduanya mencuci hatinya dengan air zamzam, salju dan embun. Kemudian ditutup kembali dan dijahit atas izin Allah lalu pada punggungnya diberi tanda kenabian. Melihat kejadian aneh itu saudara susuanya takut dan mandatangi ibunya seraya menceritakan peristiwa yang terjadi pada Muhammad. Mendengar cerita anaknya, halimah takut terjadi apa-apa pada Muhammad, kemudian ia kembalikan Muhammad kepangkuan ibunda Aminah yang melahirkannya. Aminah berkata: “tidak akan terjadi apa-apa pada anakku, karena Allah selalu menjaganya dari gangguan jin dan manusia”.

0 komentar: