Rabu, 16 Juli 2008

KEUTAMAAN SAKIT

“Dari Abi Umamah Al Bahili r.a, bahwa rasulullah saw. Bersabda, ‘ketika seorang mukmin menderita sakit, maka Allah swt.memerintah para malaikat: tulislah untuk hamba-ku sebaik-baik pahala kebaikan yang biasa ia kerjakan pada waktu sehat dan sejahtera”.

Dalam hadis yang lain dinyatakan, jika seorang hamba laki-laki atau perempuan yang beriman menderita sakit, maka Allah swt.mengirim empat malaikat kepadanya menjelang ia sakit. Allah swt.memerintahkan salah satu para malaikat untuk mengambil kekuatan hamba tersebut. Lalu malaikat tersebut mengambilnya dengan perintah Allah. Sehingga hamba tersebut menjadi lemah. Allah swt memerintahkan malaikat kedua untuk mengambil perasa kelezatan makanan dari mulutnya. Allah memerintahkan malaikat ketiga untuk mengambil cahaya wajahnya, sehingga hamba tersebut wajahnya menjadi pucat menguning. Kemudian Allah swt memerintahkan malaikat keempat untuk mengambil seluruh dosa hamba tersebut, sehingga ia menjadi bersih dari dosa-dosa.

Apabila Allah menghendaki untuk menyembuhkan orang tesebut, maka Allah memerintahkan malaikat yang mengambil kekuatannya untuk mengembalikan kepadanya. Allah juga memerintahkan malaikat yang mengambil perasa kelezatan makanan dari mulutnya, untuk mengembalikan padanya. Dan memerintahkan malaikat yang mengambil cahaya wajahnya untuk mengembalikannya. Akan tetapi Allah swt tidak memerintahkan malaikat yang mengambil dosa untuk mengembalikan padanya. Malaikat yang mengambil dosa tersebut menjatuhkan diri dihadapan Allah swt dengan bersujud, seraya berkata: “wahai tuhanku, kami dulu adalah empat malaikat dalam perintahmu. Engkau perintahkan mereka menyerahkan apa yang dulu mereka ambil. Lalu mengapa engkau tidak memerintahkanku untuk mengembalikan dosa-dosa yang aku ambil padanya?” tuhan yang maha agung menjawab:”demi kemuliaan-ku, tidaklah patut jika Aku memerintahkanmu mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku memayahkannya dengan membuatnya sakit.” Malaikat tersebut bertanya: “wahai tuhanku, apa yang harus kukerjakan dengan dosa hamba tersebut?” tuhan yang maha mulia dan agung berfirman: “pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke laut.” Kemudian malaikat tersebut pergi dan membuang dosa-dosa itu ke laut. Apabila hamba yang sakit tersebut meninggal dunia, maka dia keluar dari dunia ini dalam keadaan bersih dari noda dan dosa.

Sebagaimana sabda rasulullah saw: “sakit panas sehari semalam dapat menjadi kafarat (melebur dosa) setahun.”

Alkisah : Bidadari yang menangisi mayat seorang pemuda

Diceritakan, bahwa pada zaman dahulu ada seorang laki-laki bani israil yang terkenal fasik dan suka berbuat dosa. Dia tidak pernah berusaha menekan dan menghentiakn kefasikannya. Penduduk negri tersebut sudah tidak mampu menolak kefasikannya. Mereka merendahkan diri berdoa kepada Allah swt agar menghentikan kefasikan orang tersebut. Lalu Allah swt memberi wahyu kepada nabi musa a.s,: hai musa, di bani israil terdapat seorang pemuda yang fasik. Usirlah ia dari neg\eri mereka, agar penduduk negeri tersebut tidak terkena api neraka.”

Kemudian nabi Musa a.s. mengusir laki-laki yang masih muda tersebut. Pemuda itu lalu pergi ke suatu desa. Di desa itu, Allah swt memerintahkan Musa a.s. untuk mengusirnya lagi, sehingga ia trpaksa pindah dari satu desa ke desa ynag lain. Sampai akhirnya, pemuda tersebut keluar menuju hutan dan kesuatu tempat yang tidak ada makhluk, burung dan tidak pula binatang buasnya.

Di tengah-tengah hutan belantara yang sunyi senyap itu, pemuda itu terbaring sakit seorang diri, tanpa ada seorangpun yang menolongnya. Dengan kondisinya yang lemas tak berdaya diatas tanah, seorang diri, pemuda itu mengaduh kepada tuhan: “wahai tuhanku, seandainya ibuku berda disisi kepalaku, pasti ia mengasihiku dan merasa iba atas kehinaanku ini. Senadainya ayah berada di sisiku, tentu dia menolongku, memendikanku dan mengkafaniku bila aku mati. Seandainya anak-anakku berada di sisiku, tentu mereka akan menangis dibelakang jenazahku seraya berkata: “ya Allah, ampunilah ayah kami yang asing lagi lemah ini, yang durhaka lagi fasik, yang terusir dari satu desa ke desa lain, dari suatu negri ke negri lain, sehingga sampai di hutan yang ganas dan sunyi senyap ini seorang diri. Hambamu yang hina ini, keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmat-Mu.

Pemuda ituberkata: “ Ya Allah, jika engkau memisahakan aku dari ibudan istriku, maka jangan engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Jka engkau membakat diriku dengan memisahkan diri dari mereka, maka janganlah engkau baker diriku dengan api neraka-Mu karena kemaksiatanku.”

Lalu Allah swt mengirim seorang bidadri sesuai sifat ibunya, seorang lagi bidadari sesuai sifat istrinya dan ghilman (anak-anak pelayansurga) sesuai sifat anak-anaknya, serta sorang malaikat sesuai sifat bapaknya kepada pemuda tersebut. Mereka duduk di sisisnya dan menangisi pemuda itu, seakan-akan anak,istri,ibu dan ayahnya berada di sisinya. Hati pemuda itu senang dan terhibur, ia berkata: “Ya Allah, janganlah engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu.”

Ketika pemuda tersebut telah meninggal dunia dalam keadaan bersih lagi terampuni, Allah swt memberi wahyu kepada Musa a.s.: pergilah ke suatu hutan begini, dan tempat begini. Di tempat itu ada salah satu wali (kekasih) Ku meninggal. Mandikan, kafani dan shalatilah ia.”

Sesamapainya Musa a.s. ditempat tersebut, ternyata ia melihat pemuda yang diusir dari suatu negri dan dari suaru desa atas perintah Allah swt. Yang lebih mengejutkan, ia melihat bidadari-bidadari menangisi dirinya.

Maka Musa a.s. berkata: “ Wahai tuhanku, bukankah ini adalah manusia yang fasik itu yang telah diusir dari negeri tersebut atasa perintah-Mu?” Allah swt menjawab: ‘Ya, wahai Musa, akan tetapi aku telah merahmati dan mengampuni pemuda ini dengan sebab pengaduhannya ketika sakit, dan dengan sebab ia berpisah dari kampong halamanya, dari kedua orang tua, anak dan istrinya. Aku mengirimkan kaepada pemuda ini bidadari-bidadari yang sesuai sifat ibunya,dan seorang malaikat yang sesuai sifat ayahnya, sebagai kasih saying kepada pemuda ini dan karena kehinaannya di pengasingan seorang diri. Jika orang yang diasingkan dan dikucilkan mati, maka akan ditangisi oleh penduduk langit dan penduduk bumi karena berbelas kasih kepadanya. Bagaimana Aku tidak merahmatinya, padahal Aku adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

(usfuriyah)

0 komentar: